Rabu, 13 November 2013

Lebih dari Organik: Agroekologi sebagai langkah maju


Definisi Agroekologi
Agroekologi merupakan alternatif yang berkembang dalam pertanian berkelanjutan dan dapat lebih maju dari pertanian organik karena pada intinya agroekologi mendasarkan pada kepemimpinan petani dan kepentingan komunitas. Sebagai ilmu, agroekologi dianggap sebagai pendekatan paling seimbang dalam mengatasi ketahanan pangan dan pada saat yang sama memastikan integritas lingkungan. Pada Kajian Internasional atas Pengetahuan, Ilmu dan Teknologi Pertanian untuk Pembangunan  atau International Assessment of Agricultural Knowledge, Science and Technology for Development (IAASTD)  menyatakan bahwa agroekologi sebagai jalan keluar dalam ketahanan pangan dan dalam memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan oleh revolusi Hijau. Peningkatan dan penguatan pada pengetahuan, ilmu dan teknologi (PIT) ke arah ilmu agroekologi akan berkontribusi untuk mengatasi isu-isu lingkungan dan pada saat yang sama akan mempertahankan dan meningkatkan produktifitas.
Dalam pertanian agroekolgi, lahan pertanian dikelilingi oleh pohon seperti dalam hutan. Pohon-pohon tersebut  bertindak sebagai penahan angin dan hujan sekaligus menyediakan pangan, pakan ternak dan pupuk alami. Selain itu, lahan dipenuhi oleh berbagai tanaman yang berbeda termasuk tanaman pembatas, dan berbagai hewan, ikan yang terintegrasi  seperti belut, yang  dapat  menghilangkan hama, dan berbagai serangga yang berguna mengontrol penyakit. Dalam agroekologi, spesies yang mengganggu seperti hama tanaman berperan  penting ,yakni dengan mengintroduksi ‘hama tanaman’ yang juga memiliki fungsi ekologis. Spesies tersebut menjadi tanaman perangkap yang memiliki kemampuan aksi menolak, menarik hama, dan menjadi alternatif pangan untuk serangga yang menguntungkan. Misalnya  di Kolombia, diamati bahwa ketika tanaman sejenis kacang ditanam dengan dikelilingi oleh rumput yang memiliki bau, hewan pengganggu bisa ditolak. Tak dipungkiri lagi, agroekologi menggambarkan keseimbangan hubungan yang saling melengkapi, berlawanan dan netral. Agroekologi meniru eksosistem natural/alam dan kekuatan di dalamnya yang inheren termasuk ketergantungan, saling meregulasi, saling memperbarui, saling mencukupi dan efisiensi serta keragaman.
Perkembangan Agroekologi
Agroekologi lebih dari ilmu yang mencoba untuk meniru alam dan mengembalikan spesies dan hubungan yang beragam. Hal ini ditunjukkan oleh kebutuhan kolektif untuk perubahan dalam konteks yang didominasi oleh industri besar dan pertanian sumber daya intensif. Selanjutnya untuk memastikan integritas lingkungan, agroekologi bertujuan untuk kedaulatan pangan, dimana petani kecil mengambil kendali atas tanah mereka, memperkaya pengetahuan tradisional, menjaga dan diversifikasi bibit serta menyediakan makanan bagi keluarga mereka. Agroekologi juga menerapkan  metode partisipatif penelitian kepada petani. Bahkan, ketika teknologi baru diperkenalkan,terutama dalam merehabilitasi lahan rusak, penggunaan teknologi didasarkan pada pengetahuan lokal serta ekonomis agar lebih mudah diakses.  Teknologi tersebut juga  berbasis sumber daya lokal sosial agar peka terhadap budaya dan gender. Teknologi tersebut juga memiliki prinsip menghindari risiko dan beradaptasi dengan perubahan lingkungan, dan  meningkatkanproduktivitas total pertanian. Metode ini juga telah diperluas dalam formasi politik yang mendukung agroekologi. Di Amerika Latin, program-program petani (campesino)memiliki sekolah lapangan bagi petani dimana pengetahuan tradisional pada pertanian dapat ditingkatkan, juga bertujuan untukmenguatkan mandat politik bagi anggotanya. Dengan cara ini, anggota mereka dapat mempengaruhi proses kebijakan dan berefekperubahan politik.  Namun di kawasan Asia Tenggara, dalam pelaksanaan metode ini, petani dihadapkan  dengan dakekhawatiran seperti dominasi usaha dalam mengendalikan kebijakan pertanian, volume  tinggi impor,ketidaksuburan tanah, hilangnya budaya tradisional, pestisida, kehilangan keanekaragaman hayati, dampak kesehatan, investasi yang tinggi, dan rendahnya hasil panen.
Perempuan dan agroekologi
Peran perempuan dalam pertanian, terutama dalam menjaga pengetahuan tradisional, cukup signifikan.  Di Vietnam, Center for Sustainable Rural Development (SRD)melibatkan perempuan dalam proyek-proyek di lebih dari 10 provinsi,dalam mempromosikan sistem intensifikasi padi (SRI) untuk mengurangi pestisida dan kebutuhan air. Dalam beberapa proyek SRD, petani mengelilingi tanaman jagung atau sawah dengan pohon-pohon liar dan bunga matahari untuk mengusir hama. Areapengolahan tanah menggunakan jerami padi untuk  menjaga lantai rumah ternak yang bersih. Tanaman kacang liar mengelilingi tanaman teh untuk  menghemat air dan meningkatkan kualitas teh.
Sementara itu di Filipina Selatan, METSA Foundation khusus melayani petani perempuan, yang terlatih dalam pertanian organik,pengorganisasian masyarakat, mengumpulkan benih tradisional dan mengembangkan pupuk alami. Meski demikian, masih banyak yang harus dilakukan dalam hal konteks budaya anggota METSA. Seperti dijelaskan METSA, "Kami masih memiliki budaya patriarki, dimana perempuan sering dianggap sebagai pembantu, yang tidak memiliki kekuatan pengambilan keputusan. Kadang-kadang anggota kami bahkan  memiliki kesulitan dalam menerapkan apa yang telah mereka pelajari dari seminar kami."
Bergerak lebih dari pertanian organik
Meskipun ada peningkatan minat di kalangan petani kecil pada pertanian organik, pergeseran konsumen kearah pertanian organik tidak mudah terutama di lahan yang telah menyerap pestisida. Di satu sisi dalam pertanian organik cenderung melawan penjualan produsen tanaman yang berpestisida dan konsumen sekarang mulai menyukai tanaman organik. Namun di sisi lain, pergeseran ke arah pertanian organik yang dilakukan oleh perkebunan besar masih sulit diterima oleh gerakan sosial.
Pertanian organik masih sulit diterima oleh masyarakat karena pertanian organik memiliki prinsip yakni menghilangkan penggunaan pestisida. Selain itu, dalam pemasaran produknya, tanaman organic membutuhkan proses sertifikasi dan standarisasi yang membutuhkan banyak biaya. Untuk petani kecil, hal tersebut terlalu berat  karena  mereka harus membayar sejumlah yang sama dengan pemilik perkebunan yang memiliki tanah luas. Hal tersebut terjadi karena  standar buta terhadap kepemilikan lahan. Dalam situasi sulit itu, prinsip agroeekologi dapat diterapkan dalam perkebunan besar. Dengan agroekologi, pertanian organik diubah menjadi pertanian yang berbasis keluarga dan komunitas yang dikendalikan oleh petani itu sendiri yang didukung oleh adanya reformasi tanah yang menjadikan perdagangan dan harga menjadi lebih adil bagi petani karena mengutamakan pasar lokal dengan kebijakannya yang kondusif.




(Elly Mayasari 12734)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar