Definisi Agroekologi
Agroekologi merupakan alternatif yang berkembang dalam pertanian
berkelanjutan dan dapat lebih maju dari pertanian organik karena pada
intinya agroekologi mendasarkan pada kepemimpinan petani dan kepentingan
komunitas. Sebagai ilmu, agroekologi dianggap sebagai pendekatan paling
seimbang dalam mengatasi ketahanan pangan dan pada saat yang sama memastikan
integritas lingkungan. Pada Kajian Internasional atas Pengetahuan, Ilmu dan
Teknologi Pertanian untuk Pembangunan atau International
Assessment of Agricultural Knowledge, Science and Technology for
Development (IAASTD) menyatakan
bahwa agroekologi sebagai jalan keluar dalam ketahanan pangan dan dalam
memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan oleh revolusi Hijau. Peningkatan dan
penguatan pada pengetahuan, ilmu dan teknologi (PIT) ke arah ilmu agroekologi
akan berkontribusi untuk mengatasi isu-isu lingkungan dan pada saat yang sama
akan mempertahankan dan meningkatkan produktifitas.
Dalam pertanian agroekolgi, lahan pertanian dikelilingi oleh pohon
seperti dalam hutan. Pohon-pohon tersebut bertindak sebagai penahan angin dan hujan
sekaligus menyediakan pangan, pakan ternak dan pupuk alami. Selain itu, lahan dipenuhi
oleh berbagai tanaman yang berbeda termasuk tanaman pembatas, dan berbagai
hewan, ikan yang terintegrasi seperti belut, yang dapat menghilangkan hama, dan berbagai serangga yang
berguna mengontrol penyakit. Dalam agroekologi, spesies yang mengganggu seperti
hama tanaman berperan penting ,yakni
dengan mengintroduksi ‘hama tanaman’ yang juga memiliki fungsi ekologis. Spesies
tersebut menjadi tanaman perangkap yang memiliki kemampuan aksi menolak, menarik
hama, dan menjadi alternatif pangan untuk serangga yang menguntungkan. Misalnya
di Kolombia, diamati bahwa ketika
tanaman sejenis kacang ditanam dengan dikelilingi oleh rumput yang memiliki
bau, hewan pengganggu bisa ditolak. Tak dipungkiri lagi, agroekologi
menggambarkan keseimbangan hubungan yang saling melengkapi, berlawanan dan
netral. Agroekologi meniru eksosistem natural/alam dan kekuatan di
dalamnya yang inheren termasuk ketergantungan, saling meregulasi, saling
memperbarui, saling mencukupi dan efisiensi serta keragaman.
Perkembangan Agroekologi
Agroekologi lebih dari ilmu yang mencoba untuk
meniru alam dan mengembalikan spesies dan hubungan yang beragam. Hal ini
ditunjukkan oleh kebutuhan kolektif untuk perubahan dalam konteks yang
didominasi oleh industri besar dan pertanian sumber daya intensif.
Selanjutnya untuk memastikan integritas lingkungan, agroekologi bertujuan untuk
kedaulatan pangan, dimana petani kecil mengambil kendali atas tanah mereka,
memperkaya pengetahuan tradisional, menjaga dan diversifikasi
bibit serta menyediakan makanan bagi keluarga mereka. Agroekologi juga menerapkan
metode partisipatif penelitian kepada petani. Bahkan,
ketika teknologi baru diperkenalkan,terutama dalam merehabilitasi lahan rusak, penggunaan
teknologi didasarkan pada pengetahuan lokal serta ekonomis agar
lebih mudah diakses. Teknologi tersebut
juga berbasis sumber daya lokal sosial agar peka terhadap budaya dan
gender. Teknologi tersebut juga memiliki prinsip menghindari
risiko dan beradaptasi dengan perubahan lingkungan, dan meningkatkanproduktivitas
total pertanian. Metode ini juga telah diperluas dalam
formasi politik yang mendukung agroekologi. Di Amerika
Latin, program-program petani (campesino)memiliki sekolah lapangan
bagi petani dimana pengetahuan tradisional pada
pertanian dapat ditingkatkan, juga bertujuan untukmenguatkan mandat
politik bagi anggotanya. Dengan cara ini, anggota mereka dapat
mempengaruhi proses kebijakan dan berefekperubahan politik. Namun di kawasan Asia Tenggara, dalam
pelaksanaan metode ini, petani dihadapkan dengan dakekhawatiran
seperti dominasi usaha dalam mengendalikan kebijakan
pertanian, volume tinggi impor,ketidaksuburan
tanah, hilangnya budaya tradisional, pestisida, kehilangan
keanekaragaman hayati, dampak kesehatan, investasi yang
tinggi, dan rendahnya hasil panen.
Perempuan dan agroekologi
Peran perempuan dalam pertanian, terutama dalam menjaga pengetahuan tradisional, cukup signifikan. Di Vietnam, Center for Sustainable Rural Development (SRD)melibatkan perempuan dalam proyek-proyek di lebih dari 10 provinsi,dalam mempromosikan sistem intensifikasi padi (SRI) untuk mengurangi pestisida dan kebutuhan air. Dalam beberapa proyek SRD, petani mengelilingi tanaman jagung atau sawah dengan pohon-pohon liar dan bunga matahari untuk mengusir hama. Areapengolahan tanah menggunakan jerami padi untuk menjaga lantai rumah ternak yang bersih. Tanaman kacang liar mengelilingi tanaman teh untuk menghemat air dan meningkatkan kualitas teh.
Peran perempuan dalam pertanian, terutama dalam menjaga pengetahuan tradisional, cukup signifikan. Di Vietnam, Center for Sustainable Rural Development (SRD)melibatkan perempuan dalam proyek-proyek di lebih dari 10 provinsi,dalam mempromosikan sistem intensifikasi padi (SRI) untuk mengurangi pestisida dan kebutuhan air. Dalam beberapa proyek SRD, petani mengelilingi tanaman jagung atau sawah dengan pohon-pohon liar dan bunga matahari untuk mengusir hama. Areapengolahan tanah menggunakan jerami padi untuk menjaga lantai rumah ternak yang bersih. Tanaman kacang liar mengelilingi tanaman teh untuk menghemat air dan meningkatkan kualitas teh.
Sementara itu di Filipina Selatan, METSA Foundation khusus
melayani petani perempuan, yang terlatih dalam pertanian
organik,pengorganisasian masyarakat, mengumpulkan benih tradisional dan
mengembangkan pupuk alami. Meski demikian, masih banyak yang harus
dilakukan dalam hal konteks budaya anggota METSA. Seperti dijelaskan METSA, "Kami
masih memiliki budaya patriarki, dimana perempuan sering dianggap
sebagai pembantu, yang tidak memiliki kekuatan pengambilan
keputusan. Kadang-kadang anggota kami bahkan memiliki kesulitan
dalam menerapkan apa yang telah mereka pelajari dari seminar kami."
Bergerak lebih
dari pertanian organik
Meskipun ada peningkatan minat di kalangan petani kecil pada
pertanian organik, pergeseran konsumen kearah pertanian organik tidak mudah
terutama di lahan yang telah menyerap pestisida. Di satu sisi dalam pertanian
organik cenderung melawan penjualan produsen tanaman yang berpestisida dan konsumen
sekarang mulai menyukai tanaman organik. Namun di sisi lain,
pergeseran ke arah pertanian organik yang dilakukan oleh
perkebunan besar masih sulit diterima oleh gerakan sosial.
Pertanian
organik masih sulit diterima oleh masyarakat karena pertanian organik memiliki
prinsip yakni menghilangkan penggunaan pestisida. Selain itu, dalam pemasaran
produknya, tanaman organic membutuhkan proses sertifikasi dan standarisasi yang
membutuhkan banyak biaya. Untuk petani kecil, hal tersebut terlalu
berat karena mereka harus
membayar sejumlah yang sama dengan pemilik perkebunan yang memiliki
tanah luas. Hal tersebut terjadi karena standar buta terhadap
kepemilikan lahan. Dalam situasi sulit itu, prinsip agroeekologi dapat
diterapkan dalam perkebunan besar. Dengan agroekologi, pertanian organik diubah
menjadi pertanian yang berbasis keluarga dan komunitas yang dikendalikan oleh
petani itu sendiri yang didukung oleh adanya reformasi tanah yang menjadikan
perdagangan dan harga menjadi lebih adil bagi petani karena mengutamakan pasar
lokal dengan kebijakannya yang kondusif.
Sumber : http://www.beritabumi.or.id
(Elly Mayasari 12734)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar